Kampung Wallace di Halmahera, Gubernur Sherly :Masa Depan Wisata Maluku Utara
PUBLIKA-Jailolo, Festival Teluk Jailolo (FTJ) 2026 tidak hanya menghadirkan kemegahan seni dan budaya, tetapi juga menandai langkah baru pengembangan pariwisata Maluku Utara. Dalam momentum pembukaan festival, Rabu (17/6/2026), Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, meresmikan pencanangan Kampung Wallace di Desa Wisata Dodinga, sekaligus menegaskan komitmen menjadikan FTJ sebagai motor kebangkitan pariwisata daerah.
Pembukaan FTJ 2026 berlangsung meriah. Ribuan penari tradisional tampil memukau dalam pertunjukan budaya kolosal yang digelar serentak di Lapangan Desa Dodinga, Pantai Disa-Susupu, dan Desa Adat Taraudu. Atraksi budaya yang sarat nilai tradisi itu sukses menyedot perhatian masyarakat dan wisatawan yang memadati kawasan festival sejak pagi hari.
Didampingi James Uang dan Djufri Muhammad, Sherly hadir menyaksikan langsung rangkaian pembukaan festival yang tahun ini mengusung tema “Cultural Heritage Collaboration for Upscale Tourism”.
Dalam sambutannya, Sherly menegaskan bahwa Festival Teluk Jailolo telah berkembang menjadi lebih dari sekadar agenda tahunan. Menurutnya, FTJ merupakan etalase budaya Maluku Utara yang mampu memperkenalkan kekayaan adat, tradisi, dan keindahan alam Halmahera Barat kepada dunia.
“Setiap wisatawan yang datang membawa dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat. Mulai dari transportasi, penginapan, kuliner, hingga penjualan produk kerajinan lokal, semuanya ikut bergerak dan tumbuh,” ujar Sherly.
Ia menilai sektor pariwisata memiliki efek berantai yang sangat besar terhadap perekonomian daerah. Karena itu, festival budaya seperti FTJ harus terus diperkuat agar mampu menarik lebih banyak wisatawan sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat.
Sherly juga mengajak para pelaku UMKM dan ekonomi kreatif untuk memanfaatkan FTJ sebagai panggung promosi produk unggulan daerah. Menurutnya, kekayaan budaya dan produk lokal harus menjadi identitas yang mampu menarik minat pasar nasional maupun internasional.
Namun di balik kemeriahan festival, Gubernur mengingatkan pentingnya dukungan infrastruktur yang memadai. Ia menilai potensi wisata Halmahera Barat sangat besar, tetapi harus ditopang dengan konektivitas, fasilitas publik, dan tata kelola destinasi yang profesional.
Untuk itu, Sherly menyampaikan tiga langkah strategis yang menjadi fokus pengembangan pariwisata di Halmahera Barat. Pertama, mendorong percepatan pelepasan aset dermaga jetty agar dapat memperoleh dukungan pembangunan melalui APBN. Kedua, memperkuat infrastruktur digital melalui koordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital guna memperluas akses internet di kawasan wisata. Ketiga, membenahi fasilitas dan tata kelola venue agar memenuhi standar kenyamanan dan keselamatan wisatawan.
Puncak acara ditandai dengan pencanangan Kampung Wallace di Desa Wisata Dodinga. Program tersebut diharapkan menjadi ikon baru wisata edukasi, budaya, dan konservasi yang mampu memperkuat daya tarik Halmahera Barat di mata wisatawan.
Pencanangan Kampung Wallace sekaligus menjadi simbol sinergi antara pelestarian warisan budaya, pengembangan pariwisata berkelanjutan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Melalui FTJ 2026, Pemerintah Provinsi Maluku Utara ingin memastikan bahwa kekayaan budaya tidak hanya menjadi kebanggaan daerah, tetapi juga sumber kesejahteraan bagi masyarakat.
Dengan semarak tarian tradisional, tingginya antusiasme pengunjung, serta lahirnya Kampung Wallace sebagai destinasi baru, FTJ 2026 menjadi penanda optimisme baru bagi masa depan pariwisata Maluku Utara—dari Jailolo untuk Indonesia, dan dari Maluku Utara untuk dunia.(red)





