Kekeringan Melanda Dowora, BWS dan PUPR Malut Pulihkan Pasokan Air Warga
PUBLIKA-Sofifi, Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Maluku Utara mulai berdampak pada pemenuhan kebutuhan air bersih dan air minum masyarakat. Salah satunya dirasakan warga Desa Dowora, Kecamatan Gane Barat Selatan, yang selama ini mengandalkan pasokan air minum dari Dusun Doksili melalui jalur laut.
Namun, distribusi air sempat terhenti setelah kapal pengangkut milik masyarakat mengalami kerusakan mesin. Kondisi tersebut membuat warga harus mengandalkan sumber air yang tersedia di sekitar permukiman untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Pemerintah Provinsi Maluku Utara melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) Kementerian Pekerjaan Umum kemudian bergerak mencari solusi agar kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas PUPR Maluku Utara, Risman Iriyanto Djafar, mengatakan penanganan kekeringan saat ini menjadi salah satu perhatian utama pemerintah daerah, terutama untuk memastikan masyarakat tetap mendapatkan air bersih dan air minum.
“Sudah beberapa hari ini perhatian terfokus pada kebutuhan air, kebakaran, kekeringan,” kata Risman pada wartawan jumat 28 Agunstus 2026.
Menurutnya, kondisi di Dowora membutuhkan penanganan khusus karena sumber air yang tersedia belum sepenuhnya dapat digunakan untuk konsumsi.
Air dari sumur bor yang berada di sekitar permukiman masih dapat dimanfaatkan warga untuk mandi dan kebutuhan rumah tangga. Namun, karena bersifat payau, air tersebut tidak layak dijadikan sumber air minum.
Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, pemerintah kemudian menyalurkan bantuan air minum ke masyarakat.
“Untuk minum mereka pakai bantuan. Kalau masih kekurangan air minum, kita buka layanan untuk menyediakan kembali,” ujarnya.
Bersama BWS, Dinas PUPR Maluku Utara telah menyalurkan bantuan air minum ke Dowora pada 18–19 Agustus 2026. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan warga tetap terpenuhi selama jalur distribusi air melalui laut belum kembali normal.
Namun, pemerintah tidak ingin penanganan hanya bergantung pada bantuan. Solusi jangka lebih panjang disiapkan dengan memperbaiki kapal masyarakat yang selama ini menjadi penghubung distribusi air dari Doksili menuju Dowora.
Pada 27 Agustus 2026, pemerintah memberikan dukungan biaya operasional untuk perbaikan mesin kapal tersebut.
Risman mengatakan perbaikan kapal dinilai lebih efisien dan efektif dibandingkan menyewa kapal pengangkut seperti LCT.“Daripada kita sewa LCT, lebih baik kapal yang ada kita perbaiki,” jelasnya.
Menurut Risman, keberadaan kapal tersebut sangat penting bagi masyarakat Dowora. Setelah diperbaiki, kapal diharapkan kembali menjadi sarana transportasi untuk mendukung distribusi air minum secara rutin.
Langkah itu sekaligus diharapkan dapat mengurangi ketergantungan warga terhadap bantuan air yang sifatnya sementara.
Penanganan kekeringan juga terus dilakukan di sejumlah wilayah lain di Maluku Utara. Dinas PUPR bersama BWS terus memetakan kebutuhan air masyarakat dan menyiapkan langkah penanganan sesuai kondisi masing-masing wilayah.
Risman menyebut langkah tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda agar wilayah yang mengalami kekurangan air segera mendapat penanganan.
“Intinya perintah dari Ibu Gubernur disampaikan ke kami, kemudian kami koordinasi dengan BWS,” katanya.
Pemerintah berharap perbaikan kapal di Dowora dapat segera diselesaikan sehingga jalur distribusi air dari Doksili kembali berfungsi. Dengan begitu, warga tidak hanya mendapatkan bantuan ketika krisis terjadi, tetapi memiliki kembali akses distribusi air yang lebih berkelanjutan.
Bagi warga Dowora yang masih membutuhkan bantuan air minum, dapat menghubungi Posko Induk BWS di +62 823 4311 2991 atau PIC Dinas PUPR Maluku Utara di +62 812-4344-4117.(red)







