Anak Muda, Estuaria, dan Ancaman Pesisir
Herman Oesman
Dosen Sosiologi FISIP UMMU
“…Estuaria bukan sekadar muara. Ia merupakan ruang lahirnya peradaban pesisir, tempat pengetahuan diwariskan…”
Suatu siang yang garing, usai Jumatan (21/08/2026) hingga sore merona, di area Camp Anak Muda Estuaria Pulo Tareba, Perkumpulan Pakativa meminta saya urun rembug. Berbincang dengan delapan anak muda dari latar pendidikan berbeda, membicarakan kondisi sosial budaya masyarakat pesisir.
Tentu juga, soal estuaria, kondisi ekologi yang hampir sekarat, dan segudang masalah.
Di tengah terpaan angin geostropik, pembicaraan itu dimulai.
Diawali soal dinamika sosial budaya masyarakat pesisir, kebudayaan, hingga permasalahan yang dihadapi masyarakat pesisir, terutama di Maluku Utara.
Pesisir, tentu akan bersinggungan dengan estuaria.
Diskusi mengarah kesana.
Estuaria, pembicaraan itu dimulai, merupakan ruang perjumpaan antara sungai dan laut.
Pada wilayah inilah air tawar bertemu air asin, sedimen mengendap, ikan berkembang biak, mangrove tumbuh, dan kehidupan masyarakat pesisir berdenyut dari generasi ke generasi.
Estuaria bukan sekadar bentang alam, melainkan ruang sosial budaya yang membentuk pengetahuan, tradisi, dan identitas masyarakat pesisir.
Mulai rorano, gohu ikan, dibo-dibo gorela, menjadi bagian dari diskusi dengan delapan anak muda itu.
Masyarakat pesisir justru memiliki kebudayaan yang merupakan a whole way of life, seluruh cara hidup manusia yang lahir dari hubungan mereka dengan lingkungan dan sejarahnya (William, 1958/1983).
Estuaria, dalam konteks pesisir, menjadi pusat kebudayaan karena di sanalah masyarakat belajar membaca musim, mengenali pasang surut, menentukan waktu melaut, hingga membangun solidaritas melalui kerja kolektif.
Pengetahuan itu, bagi masyarakat pesisir, tidak selalu lahir dari sekolah atau laboratorium. Ia diwariskan melalui pengalaman hidup.
Nelayan mengetahui arah angin dari bentuk awan atau cuaca. Warga pesisir juga mengenali waktu terbaik mencari ikan dari gerakan air atau arah angin. Mereka membaca perubahan musim melalui perilaku hewan dan tentu warna laut.
Pengetahuan lokal seperti ini merupakan modal budaya yang memungkinkan komunitas bertahan menghadapi ketidakpastian alam.
Inilah yang disebut sebagai knowable community, yaitu komunitas yang mengenali dirinya melalui pengalaman sehari-hari, hubungan antarmanusia, dan keterikatan terhadap tempat tinggal (William, 1958/1983).
Pengetahuan tersebut bukan sesuatu yang statis, tetapi terus diperbarui melalui praktik hidup masyarakat.
Estuaria juga menjadi ruang ekonomi rakyat. Hasil tangkapan ikan, kepiting, udang, hingga pangan, menopang kehidupan keluarga pesisir.
Tatkala estuaria rusak, yang hilang bukan hanya sumber daya alam, tetapi juga memori kolektif dan identitas budaya masyarakat.
Hari ini, estuaria menghadapi tekanan yang kian membesar. Reklamasi, sedimentasi akibat pembukaan lahan, pencemaran limbah, pertambangan, serta perubahan iklim telah mengubah wajah pesisir secara drastis.
Banyak muara (sungai dan laut) kehilangan hutan mangrove, padahal mangrove berfungsi sebagai penahan abrasi sekaligus tempat pembesaran berbagai spesies ikan.
Secara ekologis, estuaria merupakan salah satu ekosistem paling produktif di dunia karena menjadi zona transisi antara ekosistem sungai dan laut (Elliot & Whitfield, 2011).
Produktivitas tersebut bergantung pada keseimbangan aliran air, sedimen, dan vegetasi pesisir.
Tatkala keseimbangan ini terganggu, rantai kehidupan ikut terancam.
Ancaman terbesar justru datang dari cara pembangunan yang memandang pesisir sebagai ruang kosong untuk investasi.
Kerusakan lingkungan bukan hanya persoalan teknis, melainkan akibat relasi kuasa yang menempatkan alam sebagai komoditas.
Akibatnya, masyarakat lokal kehilangan akses terhadap ruang hidup yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka.
Dampak sosialnya sangat nyata. Pendapatan nelayan menurun, konflik ruang meningkat, migrasi pemuda bertambah, dan tradisi bahari perlahan memudar.
Ketika estuaria kehilangan fungsi ekologisnya, masyarakat pesisir juga kehilangan fondasi kebudayaannya.
Harapan terbesar sesungguhnya berada pada generasi muda. Anak muda tidak cukup hanya menjadi saksi kerusakan lingkungan.
Mereka harus menjadi pelaku perubahan. Literasi ekologis perlu dipadukan dengan pengetahuan lokal agar lahir generasi yang memahami teknologi sekaligus menghormati tradisi.
Keterlibatan anak muda dapat dimulai dari hal-hal sederhana, sebagaimana yang dilakukan Perkumpulan Pakativa melalui Camp Estuaria.
Memetakan kawasan mangrove, mendokumentasikan cerita para nelayan, membersihkan muara, hingga mengembangkan ekonomi kreatif berbasis hasil pesisir yang berkelanjutan.
Kehadiran media digital, tentu membuka peluang besar bagi mereka untuk mengampanyekan konservasi estuaria kepada publik yang lebih luas.
Kehidupan anak muda yang menunjukkan pendekatan budaya, dapat membantu memahami bagaimana generasi muda membangun identitas, harapan, dan tindakan kolektif di tengah perubahan sosial yang cepat.
Masa depan pesisir tidak hanya ditentukan oleh kebijakan negara, tetapi juga oleh kemampuan anak muda membentuk budaya baru yang berpihak pada keberlanjutan.
Anak muda perlu melihat estuaria bukan sebagai halaman belakang kampung, melainkan sebagai laboratorium kehidupan.
Di sanalah mereka dapat belajar tentang biodiversitas, perubahan iklim, kewirausahaan sosial, hingga kepemimpinan komunitas.
Pendidikan pesisir harus keluar dari ruang kelas dan hadir langsung di muara, pantai, serta hutan mangrove.
Di titik ini, Perkumpulan Pakativa mencoba menyulam, merangkai realitas kawasan pesisir yang tercecer melalui Camp Estuaria yang telah berlangsung selama enam kali sejak 2021/2022.
Estuaria mengajarkan satu nilai penting. Kehidupan lahir dari pertemuan. Sungai tidak menaklukkan laut, dan laut tidak menghapus sungai. Keduanya membentuk keseimbangan yang memungkinkan ribuan spesies hidup bersama.
Nilai ini menjadi metafora bagi masyarakat Indonesia yang majemuk, keberagaman hanya dapat bertahan melalui harmoni, bukan dominasi.
Menjaga estuaria berarti menjaga masa depan masyarakat pesisir. Kebijakan pembangunan harus menempatkan komunitas lokal sebagai subjek, bukan sekadar penerima dampak.
Lembaga pendidikan perlu menjadikan literasi pesisir sebagai bagian dari kurikulum agar anak muda memahami, meresapi, identitas bahari negeri ini, yang dibangun dari hubungan adil antara manusia, budaya, dan alam.
Estuaria bukan sekadar muara, bukan sekadar tempat. Ia merupakan ruang lahirnya peradaban pesisir, tempat pengetahuan diwariskan, solidaritas dibangun, dan masa depan anak muda dipertaruhkan.
Bila estuaria tetap hidup, maka harapan masyarakat pesisir akan terus mengalir bersama pasang dan surutnya laut.[]







