Publikamalut.com
Beranda News Tiga Hal Dipersiapkan Oleh Ummat Islam Dalam Menyambut Bulan Suci Ramadhan

Tiga Hal Dipersiapkan Oleh Ummat Islam Dalam Menyambut Bulan Suci Ramadhan

Oleh: Abd Sarman Sibua
(Pengurus Daerah Pemuda Muhammadiyah Pulau Morotai)

Dalam sehari lagi, hilal bulan Ramadhan yang diberkahi akan muncul dengan membawa berbagai kebaikan dan keutamaan bagi umat Islam. Inilah bulan yang Allah jadikan penuh dengan keberkahan, dimana pada bulan ini (dahulu) diturunkan al-Qur’an. Siang harinya diwarnai dengan puasa.

Malam harinya diisi dengan sholat malam. Dan apa-apa yang ada diantara waktu-waktu itu dihiasi dengan dzikir kepada Allah SWT, serta mendekatkan diri kepada-Nya dengan berbagai jenis ketaatan. Oleh sebab itu, semua waktu yang ada pada bulan itu penuh dengan keberkahan, semuanya mengandung kebaikan. Dan semuanya merupakan ghanimah/perbendaharaan dan harta yang sangat berharga bagi seorang muslim sejati. 

Maka sudah semestinya bagi setiap muslim untuk bergembira dengan datangnya bulan ini; karena pada bulan ini dia akan mendapatkan jalan keselamatan dari berbagai kebinasaan dan kehancuran. Bahkan, bisa jadi dia akan menganggap bulan Ramadhan adalah bulan untuk bermalas-malasan. Bulan untuk menyantap berbagai makanan dan minuman. Bulan untuk tidur di siang hari dan begadang di malam hari -tanpa faidah, sehingga dia tidak mendapatkan manfaat apa-apa darinya. 

Bahkan terjatuh dalam dosa. Karena keburukan/dosa pada bulan itu akan dilipatgandakan dosanya daripada di bulan-bulan yang lainnya dan diberikan ganjaran hukuman yang lebih berat, sebagaimana pula pada bulan itu kebaikan akan diperbesar pahalanya. Amal kebaikan pada bulan itu akan diperbesar pahalanya di sisi Allah jauh lebih banyak daripada amal kebaikan serupa yang dilakukan pada waktu-waktu selainnya. Demikian pula perbuatan-perbuatan maksiat maka dosanya jauh lebih berat, dan itu semuanya adalah disebabkan kemuliaan waktu yang ada pada bulan Ramadhan.

Rasanya kita tidak lagi bermain untuk memupuk diri untuk mengisi banyak hal yang menjadi kewajiban/rutinitas sebagai orang yang beragama islam, bulan Ramadhan ini tentu mengajarkan umat islam untuk melatih kesabaran dan menahan berbagai macam godaan. Hal tersebut dilakukan agar setiap insan dapat menjadi hamba yang takwa di hadapan Allah SWT. Tak heran, jika banyak orang yang mempersiapkan banyak hal untuk menyambut bulan nan suci ini. 

Persiapan dalam menyambut bulan puasa tidak hanya bersifat material semata, tetapi juga harus didukung oleh konsep spiritual yang benar-benar terprogram. Dengan kata lain, semaksimal mungkin kita harus mempersiapkan diri secara rohani untuk menyongsong datangnya tamu allah yang disebut sebagai ramadhan. Sebagaimana kata Nabi dalam hadisnya “Banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa, kecuali lapar dan dahaga.” (HR. Ahmad).

1. Niat berpuasa 

Persiapan menghadapi bulan Ramadhan dimulai dengan berniat dan berdoa berusaha meningkatkan khazanah keilmuan (khususnya belajar agama), dengan penuh keimanan dan ketulusan hati dalam beribadah. Dengan demikian, maka kesulitan dan sikap malas dalam ibadah bisa diatasi dan dihilangkan. Ibadah pun menjadi terasa mudah dan menyenangkan pada saat tibanya bulan suci ramadhan.

Kewajiban itu telah ditegaskan Allah dalam (QS. Surat al-Baqara ayat 183). “ Hai orang-orang yang beriman diwajibkan bagimu ibadah puasa, sebagaimana diwajibkan bagi orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa” seyogiyanya ibadah puasa juga dipandang sebagai cara untuk belajar tentang kesabaran, menghentikan kebiasaan buruk.

Memaknai Ayat-Ayat tentang Puasa “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.

Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) atau membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”. (Al-Baqarah: 183-184).

Allah SWT berfirman yang ditujukan kepada orang-orang beriman dari umat ini, seraya menyuruh mereka agar berpuasa. Yaitu menahan dari makan, minum dan bersenggama dengan niat ikhlas karena Allah SWT. Karena di dalamnya terdapat penyucian dan pembersihan jiwa, juga menjernihkannya dari pikiran-pikiran yang buruk dan akhlak yang rendah.

Allah SWT menyebutkan, di samping mewajibkan atas umat ini, hai yang sama juga telah diwajibkan atas orang-orang terdahulu sebelum mereka. Dari sanalah mereka mendapat teladan. Maka, hendaknya mereka berusaha menjalankan kewajiban ini secara lebih sempurna dibanding dengan apa yang telah mereka kerjakan. (Tafsir Ibn Katsir, 11313.)

Lalu, Dia memberikan alasan diwajibkannya puasa tersebut dengan menjelaskan manfaatnya yang besar dan hikmahnya yang tinggi. Yaitu agar orang yang berpuasa mempersiapkan diri untuk bertaqwa kepada Allah SWT. Yakni dengan meninggalkan nafsu dan kesenangan yang dibolehkan, semata-mata untuk mentaati perintah Allah SWT dan mengharapkan pahala di sisi-Nya. Agar orang beriman termasuk mereka yang bertaqwa kepada Allah SWT, taat kepada semua perintah-Nya serta menjauhi larangan-larangan dan segala yang diharamkan-Nya. (Tafsir Ayaatul Ahkaam, oleh Ash Shabuni, I/192.)

2. Istimewahnya shalat tarawih

Shalat tarawih disunnahkan dilakukan secara berjama’ah baik bagi laki-laki dan perempuan. Keutamaannya di antaranya disebutkan dalam hadits Abu Hurairah, “Siapa saja yang melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) atas dasar iman dan mengharap padahal dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (Muttafaqun ‘alaih).

Shalat tarawih tidak hanya sebatas amaliah sunnah yang hanya dikhususkan untuk Rasulullah saw, namun juga untuk umatnya. Rasulullah saw juga menginginkan pahala luar biasa dari shalat Tarawih bagi umatnya. Rasulullah saw bersabda: Artinya, “Barang siapa melakukan shalat (Tarawih) pada Ramadhan dengan iman dan ikhlas (karena Allah ta’ala) maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq ‘Alaih).

Terdapat banyak keutamaan sholat tarawih di bulan suci Ramadhan. Ibadah ini merupakan amalan khusus yang tidak ada di bulan-bulan lainnya sehingga amat sayang dilewatkan. Lantas, apa saja hikmah shalat tarawih dalam Islam? Shalat tarawih adalah ibadah sunah yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW sebagaimana tertera dalam hadis yang diriwayatkan Aisyah RA, ia berkata: “Pada suatu malam, Nabi SAW berada di dalam masjid, beliau salat dan diikuti oleh para sahabat. Di hari berikutnya Nabi shalat seperti di hari pertama dan jemaah yang mengikutinya bertambah banyak.

Kemudian, di hari ke tiga atau keempat sahabat berkumpul di masjid untuk menanti kedatangan Nabi untuk salat jemaah tarawih bersama-sama, namun Nabi tidak kunjung hadir hingga subuh. Beliau menjelaskan perihal ketidakhadirannya di masjid semalam, beliau bersabda: “Aku telah melihat apa yang kalian lakukan, tidaklah mencegahku untuk keluar shalat bersama kalian kecuali aku khawatir shalat ini difardukan atas kalian. Perawi hadis menjelaskan bahwa yang demikian itu terjadi di bulan Ramadan,” (H.R. Bukhari dan Muslim).

3. Indahnya Malam Lailatul Qadar

Makna surat Al Qadr yang pertama adalah pada malam tersebut adalah malam diturunkannya Al Quran. Dalam ayat pertama surat Al Qadr Allah SWT berfirman,

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.”

Dijelaskan dalam ayat tersebut bahwa Al Quran diturunkan pada malam Lailatul Qadar yang penuh kemuliaan. Turunnya Al Quran di bulan Ramadan juga disebutkan dalam ayat dalam surat lain,

 “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran” (QS. Al Baqarah: 185). Makna surat Al Qadr yang kedua adalah malam tersebut adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan.

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”

Lebih baik dari seribu bulan maksudnya adalah berbagai macam amalan, puasa, dan solat yang dikerjakan pada malam tersebut lebih baik dari seribu bulan. Mujahid juga berkata bahwa malam Lailatul Qadar ini lebih baik dari 1000 bulan yang tidak terdapat Lailatul Qadar.

Ini juga menjadi pendapat dari ulama seperti Qotadah bin Da’amah dan Imam Syafi’i. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim). Makna surat Al Qadr yang ketiga yakni pada malam Lailatul Qadar, banyak malaikat, termasuk malaikat Jibril, yang turun membawa berkah dan juga rahmat. Allah SWT berfirman,

 “Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.” 

Pada malam yang mulia tersebut, para malaikat akan turun ke bumi. Hal ini menandakan bahwa di malam tersebut ada banyak keberkahan, karena setiap kali malaikat turun, mereka akan membawa kerberkahan dan rahmat sebagaimana malaikat membawa keberkahan ketika mendatangi halaqoh ilmu. Sampai-sampai mereka meletakkan sayapnya karena ridho pada penuntut ilmu.

Kemudian turunnya malaikat Jibril juga disebutkan dalam kata “ar ruh”. Penyebutan Jibril dalam ayat tersebut merupakan penyebutan khusus setelah sebelumnya disebutkan tentang turunnya malaikat secara umum.

Makna surat Al Qadr yang keempat, yaitu pada malam tersebut akan dipenuhi dengan keselamatan, sehingga setan tidak bisa bertingkah pada malam Lailatul Qadar. Allah SWT berfirman,

 “Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”

Dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim dijelaskan bahwa mujahid berkata jika setan tidak bisa melakukan kejelekan atau mengganggu manusia pada malam tersebut. Ibnu Zaid dan Qotadah juga berkata bahwa di malam Lailatul Qadar hanya ada kebaikan saja, tidak ada kejelekan hingga terbit fajar.

Makna surat Al Qadr yang terakhir yakni akan ada keselamatan dan rahmat bagi siapa pun yang menghidupkan malam Lailatul Qadar di masjid. Terkait hal ini, Asy Sya’bi berkata menjelaskan tentang ayat 4 dan 5 surat Al Qadr bahwa keselamatan dan malaikat akan datang pada malam tersebut bagi ahli masjid, dan hal itu akan berlangsung hingga datang fajar (Subuh). (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 610.)*

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *