Publikamalut.com
Beranda Daerah Rusak Parah! Siswa SD GMIH Dowonggila Belajar Bergantian, Butuh Perhatian Pemda

Rusak Parah! Siswa SD GMIH Dowonggila Belajar Bergantian, Butuh Perhatian Pemda

Kondisi bangunan SD GMIH Dowonggila Kecamatan Loloda Kepulauan (dok:Sam anggota BPD Dowonggila)

PUBLIKA-Halut, Bagi anak-anak SD GMIH Desa Dowonggila, Kecamatan Loloda Kepulauan, Kabupaten Halmahera Utara, pergi ke sekolah bukan sekadar soal belajar. Mereka juga harus berjuang menghadapi keterbatasan ruang belajar yang semakin memprihatinkan.

Dari enam ruang yang dimiliki sekolah, kini hanya satu ruangan yang masih digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Kondisi bangunan lainnya mengalami kerusakan parah dan belum mendapat penanganan.

Akibatnya, puluhan siswa terpaksa belajar secara bergantian. Siswa kelas 1 sampai 3 masuk pada pagi hari, sementara kelas 4 hingga 6 mengikuti pembelajaran pada siang hari.

Tak jarang, keterbatasan ruang membuat siswa kelas 4, 5 dan 6 harus belajar bersama dalam satu ruangan ketika memiliki jadwal mata pelajaran yang sama.

Kondisi tersebut dikeluhkan masyarakat Desa Dowonggila. Anggota BPD Desa Dowonggila, Sam Niunifat, mengatakan persoalan kondisi sekolah sudah beberapa kali disampaikan kepada anggota DPRD Halut ketika melakukan reses.

“Kalau usulan mungkin hanya ke anggota DPRD saat turun reses. Itu bukan hanya sekali kami sampaikan, tapi sampai saat ini tidak ada kabar,” ujar Sam kepada PUBLIKA, Sabtu (26/9/2026).

Menurutnya, kondisi sekolah yang rusak bukan satu-satunya persoalan. Keterbatasan tenaga pengajar juga menjadi masalah serius yang perlu segera mendapat perhatian.

“Saya lihat guru cuma dua orang. Kasihan anak-anak kami,” katanya.

Padahal, SD GMIH Dowonggila memiliki peran penting bagi masyarakat setempat. Sekolah tersebut merupakan satu-satunya sekolah dasar yang berada di desa tersebut.

Pilihan bersekolah di desa tetangga juga bukan perkara mudah. Jarak Desa Dowonggila dengan desa Tetangga sekitar lima kilometer, sehingga menjadi kendala bagi anak-anak yang harus menempuh perjalanan cukup jauh untuk mendapatkan pendidikan.

“Cuma satu sekolah ini. Kalau sekolah di tetangga kampung, jaraknya cukup jauh. Jadi kami harap sekolah yang ini mendapat perhatian dengan memperbaiki infrastruktur bangunan dan menambah tenaga pengajar,” harapnya.

Sam meminta Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara maupun Pemerintah Provinsi Maluku Utara turun tangan melihat langsung kondisi sekolah tersebut.

Ia menegaskan, meski SD GMIH merupakan sekolah swasta, keberadaannya tetap sangat dibutuhkan masyarakat karena menjadi satu-satunya akses pendidikan dasar bagi anak-anak di Desa Dowonggila.

“Memang sekolah ini swasta, tapi hanya satu-satunya sekolah SD di sini,” ujarnya.

Bagi masyarakat Dowonggila, persoalan ini bukan hanya tentang bangunan sekolah yang rusak. Ini menyangkut hak anak-anak untuk mendapatkan tempat belajar yang aman, layak dan nyaman.

Di tengah keterbatasan itu, anak-anak tetap datang ke sekolah dan mengikuti pelajaran. Mereka hanya membutuhkan ruang belajar yang layak dan perhatian pemerintah agar semangat mereka untuk menuntut ilmu tidak ikut terkikis oleh kondisi fasilitas pendidikan yang memprihatinkan.(red)

Komentar
Bagikan:

Iklan