Publikamalut.com
Beranda Ruang Kata Tarian Cakalele Harus Dibudayakan Sesuai Makna Filosofinya

Tarian Cakalele Harus Dibudayakan Sesuai Makna Filosofinya

Saifuddin Djuba
Ketua Umum Sibualamo 

Tarian Cakalele adalah warisan leluhur khas orang Maluku – Maluku Utara dimasa lampau. Daerah ini adalah satu komunitas saling berhubungan satu sama lain.

Tarian Cakalele sendiri telah ditetapkan menjadi Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Oleh Kementerian Pendidikaan dan Kebudayaan Tahun 2014 dengan No. Surat Keputusan No SK : 270/P/2014.

Saat ini Maluku – Ualuku Utara terpisahkan menjadi dua provinsi Daerah Otonami di tahun 1999 oleh Pemerintah Pusat dari aspek wilayah pemerintahan, namun kedua daerah ini mempunyai akar budaya yang sama.

Sebelum Kemerdekaan Republik Indonesia Maluku  – Maluku Utara hidup berdampingan komunitas besar yang di dalamnya terdapat banyak suku dan komunitas dibawah panji Kerajaan Ternate dan Tidore.

Tarian Cakalele adalah tarian perang tradisional khas Maluku – Maluku Utara yang melambangkan keberanian, jiwa kepahlawanan, dan semangat patriotisme masyarakat dalam membela martabat. Secara etimologi dari bahasa Ternate, “Caka” berarti roh atau setan, dan “Lele” berarti mengamuk. Tarian ini menggambarkan emosi, kekuatan, dan semangat tempur para leluhur, Tarian Cakelele juga dapat dimaknai sebagai alat pemersatu dan interaksi  sosial serta menjadi perisai dari pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan karakter dan nilai keluhuran (adat seatorang)
 
Berikut contoh bebera kalimat  semboyan dari sekian banyak kalimat semboyan menjadi alat pemersatu bagi Orang Maluku Utara :
( Orang Togale mengenal dengan semboyan “ Ria Gia Duhutu”, “Dodomi Moi” dan Orang Ternate mengenal “ Mari Moi Ngone Futuru” “ Makugawene”).

Dewasa ini banyak kalangan anak muda yang minim kepedulian sehingga minim pengatahuan pula akan sejarah dan kebudayaan kita sendiri khusunya di Maluku Utara, faktor faktor seperti inilah yang sering disalahgunakan di mendsos (Tiktok) dengan kepentingan konten dll.

Tarian Cakalele adalah tarian gerakan simbol dan diiringi dentuntan musik tradisional berupa tifa, gong dan pemukul, parang dan salawaku yang mempunyai ikatan makna sangat kuat, berbeda dengan musik musik komresil lainnya yang tidak memiliki makna filosofisnya.

Dihimbau kepada pecinta insan musik, penari dan para civitas seni dan budaya bahkan masyarakat luas khususnya di Maluku Utara, agar lebih berhati hati dalam mengadakan tarian-tarian adat agar tidak salah tafsir dan dengan sesuka hati mengubah ciri dan karakter Tarian Cakalele. Faktor-faktor ini dpat menimbulkan ketersingungan dan bisa berujung pada pengaduan ke jalur hukum.

Sebuah kebanggaan buat kita semua bila ada motivasi dan keinginan anak anak muda saat ini,  yang ingin belajar dan tau Tarian Cakalele. Mari belajarlah dengan benar pada komunitas komunitas-komunitas yang peduli dengan tarian- tarian budaya di Maluku Utara.[]

Komentar
Bagikan:

Iklan