Publikamalut.com
Beranda News Kekerasan Anak, Perempuan Masih Tinggi, DP3A Malut Sampaikan Ini ke Mahasiswa KKN

Kekerasan Anak, Perempuan Masih Tinggi, DP3A Malut Sampaikan Ini ke Mahasiswa KKN

Kadis PPPA Maluku Utara Musrifah Alhadar sampaikan sambutan di pembekalan KKN UNIBRA (dok: Bur)

PUBLIKA-Sofifi, Kasus Kekerasan terhadap anak dan perempuan di Maluku Utara masih cukup tinggi, oleh karena itu butuh kerjaan semua pihak dengan memberikan edukasi pada masyarakat.

 Hal ini disampaikan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Malut Musrifah Alhadar saat membuat acara pembekalan KKN UNIBRA angkatan ke-IX dengan tema” Kolaborasi Unibrah Cegah Stunting Kekerasan Perempuan Dan Anak Menuju Generasi Emas ” berlangsung di aula UNIBRA, Jumat (3/2)

Musrifah mengatakan sesuai data SIMPONY ditahun 2022 jumlah kasus yang terjadi di Provinsi Maluku Utara sebanyak 400 kasus, dengan angka kematian ibu dan anak berada pada 28, 61 persen. Sementara kasus stunting berada pada angka 27, 5% . Belum lagi angka perkawinan anak di Malut yang masih berada di rata-rata angka nasional

“Saya mengharapkan kepada Mahasiswa untuk berperan lebih nyata, serta membantu pemerintah dalam malakukan pencegahan agar tidak terjadi kasus baru di lokasi atau desa yang dituju,”harapnya.

Musrifah mengaku,Pemprov Malut tengah gencar-gencarnya melakukan gerakan masif guna menurunkan angka-angka yang yang disebutkan tadi, maka disinilah dituntut peran civitas perguruan Tinggi UNIBRAH yang tengah berada di masyarakat untuk berbuat lebih nyata dalam proses pencegahan agar perempuan dan anak di Malut terlindung dari segala bentuk kekerasan.

“Sekarang ini teknologi digital begitu masif, berbagai informasi di media sosial begitu kencang, maka perlu edukasi pada masyarakat agar tidak cepat dan percaya informasi di media sosial, selain itu pencegahan kekerasan terhadap anak dan perempuan,”ucapnya.

Musrifah  mengaku mahasiswa adalah generasi milenial yang peka dan mampu melihat permasalahan ditengah masyarakat, serta mampu bersama-sama memecahkan masalah, dan perlihatkan kepada masyarakat bahwa mahasiswa bukan hanya pandai berkoar-koar pada saat demonstrasi, tetapi mahasiswa yang hebat dalam menyelesaikan persolah masyarakat

“Tunjukan kerja nyata bukan hanya dengan bangunan fisik, akan tetapi pembangunan non fisik itu lebih berarti dan akan selalu dikenang oleh masyarakat kedepannya, tanpa Mahasiswa harus merubah adat dan kebiasaan masyarakat setempat”harapnya.

Sementara itu, sambutan rektor yang diwakili oleh Dekan FIP Unibrah Tidore Dr. La Yusran Lakalamu, M. Pd menngungkapkan kasus stunting merupakan kekurangan asupan makanan yang bergizi, sehingga menyebabkan anak tersebut lambat pertumbuhan berat badannya menurun.

“tingkat kekerasa , dan penculikan anak saat ini telah beredar di Malut, salah satunya yang terjadi di daerah Bacan, Obi, Halmahera Utara, serta Kota Tidore Kepulauan,”singkat rektor.(red)

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *