Publikamalut.com
Beranda Ruang Kata PETANI DAN TAMBANG

PETANI DAN TAMBANG

Oleh :Erwin Ramalan
Komunitas Pemuda Kreatif Maba Tengah

Halmahera Timur adalah salah satu wilayah yang dikenal dengan wilayah yang akan kaya sumber daya alam. Wilayah Halmahera Timur kaya akan budaya lokal. Pekerjaan para orang tua pada masa sebelum datangnya investasi pertambangan di wilayah pertanian misalnya daerah Wasile dan daerah Maba. Di daerah sendiri yang diketahui oleh masyarakat

Halmahera Timur adalah wilayah Subaim. Sedangkan untuk wilayah Maba itu berada di wilayah Maba Tengah dan Maba Utara.
Kehadiran Tambang. Halmahera tan tuba. Masyarakat lokal dengan hadirnya investasi tambang di wilayah Hamhera Timur sangat mempengaruhi mata pencarian masyarakat lokal yang pada sebelumnya mata percariannya petani dan nelayan.

Dengan hadirnya investasi tambang, masyarakat lokal mulai redup mata pencariananya. Misalnya, nelayan yang ada di Maba yang dulunya penghasil udang, ikan, dan tumbuhan laut lainnya terbaik kini mulai tergeser karena pengaruh hadirnya investasi pertambangan. Hal ini bukan hanya terjadi di wilayah Maba. Hal demikian juga terjadi di wilayah Subaim.

Hadirnya investasi pertambangan dapat mempengaruhi pendapatan petani lokal.
Salah satu tradisi, yakni proses pelepasan daging kelapa dari batoknya (bakore kalapa), adalah salah satu kebiasaan atau tradisi masyarakat Maba khususnya petani kelapa.

Tradisi ini mempunyai giliran apabila ini dilakukan masyarakat petani, maka sendirinya masyarakat setempat atau tetangga rumah itu saling tolong menolong dalam mengerjakan hal tersebut, dalam bahasa daerah atau bahasa lokal disebut dengan babari.

Tidak ada yang sempurna, masing-masing memiliki kekurangan dan semua itu akan tertutupi ketika kita bekerja sama dan saling tolong menolong. (Abdul Samad Addin, 2023).

Babari (gotong royong) merupakan salah satu kebiasaan masyarakat Maba dalam setiap menyelesaikan suatu pekerjaan. Baik secara kelompok maupun secara individu. Dalam proses pelepasan daging kelapa dari batoknya, menurut penulis hal demikian mempunyai nilai filosofis. Yakni, pertama, pelepasan daging kelapa harus mempunyai nilai kesabaran karena satu demi satu yang diambil. Kedua, tanggung jawab. Nilai tanggung jawab ini terpatri dalam setiap petani kelapa karena hal ini sudah menjadi kebiasaan pada masyarakat Maba.

Hubungan Sosial : Sebelum Tambang

Ngaku re Rasai adalah salah satu filosifi dari fagogoro. Ngaku re rasai mempunyai nilai yang sangat tinggi di wilayah Maba. Hal ini, menurut penulis sudah seperti darah daging yang ada sejak masyarakat Maba ada di muka bumi ini.

Masyarakat Maba khusus petani kelapa mempunyai kebiasan sebelum melakukan pekerjaan di waktu pagi. Para tetua sebelum berangkat bekerja mereka melakukan persiapan baik itu kebutuhan makanan maupun alat yang akan digunakan saat di kebun. Misalnya sebelum berangkat minum teh atau sarapan yang telah disiapkan oleh orang dirumah (anak atau istri). Hal demikian terjadi sudah turun temurun dari para tetua yang ada di wilayah Maba.

Bakutogor (menyapa) merupakan kebiasaan masyarakat Maba sebelum datangnya investasi pertambangan di wilayah tersebut. Ini terjadi secara terus menerus dan bahkan menurut penulis ini sudah mesjadi tradisi masyarakat Maba. Bakutogor bukan hanya terjadi di perkampungan, ini terjadi juga di kobong (kebun atau lahan) atau disebut dengan “ba uloo”. Ba Ulo merupakan kebiasaan masyarakat petani yang ada di wilayah Maba ini, Ba Ulo juga merupakan salah satu bentuk silaturahmi antar tetangga kobong (kebun atau lahan), Ba Ulo juga menandakan bahwa apakah ada orang atau tidak? Apabila ada yang membalas dengan Ba Ulo maka itu menandakan bahwa di sekitar kebun ada orang yang melakukan pekerjaan.

Setelah Ada Tambang

Kebiasan masyarakat Maba sebelum adanya pertambangan itu masih terjaga dengan baik sejak dari tetua yang ada sampai sekarang. Setelah adanya investasi pertambangan yang beroperasi di wilayah Maba ini, maka dengan sendirinya kebiasaan masyarakat Maba mulai pelan-pelan terkikis atau tergilas dengan kebiasaan yang dibangun investasi tersebut.

Perjalanan untuk pergi bekerja dengan sendirinya juga berbeda. Kebiasaan pergi bekerja itu, biasanya bakotogor, ini mulai terkikis. Penyebabnya, pertama, karena para pekerja pergi bekerja tidak pada waktu yang seperti biasa yang dilakukan sebelum adanya investasi pertambangan.

Kedua, para pekerja juga sudah tidak lagi melakukan kebiasaan yang dilakukan saat di kobong (kebun/lahan) seperti biasanya. Karena yang mereka kerjakan sekarang bukan lagi pekerjaan sebelum adanya invesatsi. Kebiaasaan baulo juga hilang dimakan zaman.[]

Komentar
Bagikan:

Iklan