PP FOKAL IMM Kecam Legislator Malut Anti-Literasi, Desak Sanksi Etik
PUBLIKA-Ternate, Pimpinan Pusat Forum Keluarga Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PP FOKAL IMM) melalui Wakil Ketua Umum, M. Saleh Tjan, menyampaikan sikap tegas terhadap tindakan salah satu anggota DPRD Maluku Utara, berinisial AK, dari Partai Demokrat yang secara terbuka telah memprovokasi warga serta menghujat kegiatan literasi yang dilaksanakan oleh Wakil Bupati Halmahera Utara, yang juga Ketua Pimpinan Wilayah FOKAL IMM Maluku Utara, Dr. Kasman Hi. Ahmad, M.Pd.
Pernyataan tersebut tidak hanya mencederai etika publik, tetapi juga memperlihatkan sikap anti-intelektual yang berbahaya bagi masa depan masyarakat.
Wakil Ketua Umum, M. Saleh Tjan mengatakan FOKAL IMM menilai bahwa literasi bukan sekadar aktivitas membaca buku, melainkan landasan utama pembangunan suatu peradaban.
Literasi telah terbukti memiliki korelasi kuat dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, partisipasi demokrasi, serta penguatan kesadaran kritis masyarakat. Karenanya, setiap upaya untuk merendahkan, apalagi mendiskreditkan gerakan literasi, adalah bentuk kemunduran berpikir yang tidak dapat ditoleransi.
“Tindakan salah satu anggota DPRD Maluku Utara tersebut yang telah sengaja memprovokasi warga dengan narasi yang meremehkan kegiatan berbasis buku tersebut menunjukkan kegagalan dalam memahami mandat konstitusional sebagai representasi rakyat,”ujar M Saleh.
Menurutnya seorang pejabat publik seharusnya menjadi teladan dalam membangun kesadaran kolektif, bukan justru menumbuhkan sentimen anti-pengetahuan.
Bahwa realitas sosial dibentuk melalui konstruksi pengetahuan. Ketika pengetahuan direndahkan, maka yang terbentuk adalah realitas sosial yang rapuh, mudah terprovokasi, dan jauh dari rasionalitas.
Lebih jauh, FOKAL IMM melihat bahwa penghujatan terhadap kegiatan literasi yang dilakukan di kediaman Wakil Bupati Halmahera Utara merupakan bentuk delegitimasi terhadap upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan kapasitas intelektual masyarakat. Padahal, di tengah tantangan globalisasi dan digitalisasi, literasi menjadi instrumen penting untuk menghadapi arus informasi yang kian kompleks.
“Menyerang kegiatan literasi sama halnya dengan melemahkan daya tahan masyarakat terhadap disinformasi dan manipulasi,”tegasnya.
FOKAL IMM juga menyoroti aspek etika komunikasi publik, di mana FOKAL IMM menekankan pentingnya rasionalitas dan dialog dalam ruang publik. Pernyataan yang bersifat provokatif dan destruktif justru bertentangan dengan prinsip deliberasi demokratis.
Untuk itu, tindakan anggota DPRD Maluku Utara tersebut tidak hanya problematik secara moral, tetapi juga mencederai prinsip-prinsip demokrasi deliberatif. Maka dari itu Pimpinan Pusat FOKAL IMM menyatakan sikap;
- Mengecam keras tindakan provokatif dan pernyataan anti-literasi yang disampaikan oleh anggota DPRD Maluku Utara “AK” karena bertentangan dengan semangat pembangunan manusia yang berkemajuan.
- Mendesak yang bersangkutan untuk segera menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada publik, khususnya kepada Wakil Bupati Halmahera Utara dan seluruh pegiat literasi.
- Mendorong Pimpinan DPRD Maluku Utara untuk melakukan evaluasi etik terhadap anggotanya yang telah mencederai kepercayaan publik dan merusak iklim intelektual masyarakat.
- Mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak terprovokasi oleh narasi anti-pengetahuan serta terus menguatkan budaya literasi sebagai basis transformasi sosial.
- Menegaskan komitmen FOKAL IMM untuk terus berada di garda terdepan dalam memperjuangkan gerakan literasi sebagai bagian dari jihad intelektual demi terwujudnya masyarakat berkemajuan.
M Saleh mengaku sebagai organisasi kader yang berpijak pada nilai-nilai keislaman dan keilmuan, FOKAL IMM memandang bahwa literasi adalah bagian dari amanat peradaban. Mengabaikan literasi berarti mengingkari masa depan. Olehnya itu, setiap bentuk serangan terhadap literasi harus dilawan dengan argumentasi, gerakan, dan konsolidasi kolektif.
Pimpinan Pusat FOKAL IMM, menegaskan bahwa ruang publik tidak boleh dikuasai oleh narasi kebencian terhadap ilmu pengetahuan. Indonesia masih membutuhkan lebih banyak pemimpin yang mendorong pencerahan, bukan yang menormalisasi kegelapan intelektual.
“Sikap tegas ini merupakan bagian dari tanggung jawab moral FOKAL IMM dalam menjaga marwah keilmuan dan masa depan bangsa,”ucap M Saleh.(red)





