Publikamalut.com
Beranda News Peran Pers Dalam Meningkatkan Minat Baca

Peran Pers Dalam Meningkatkan Minat Baca

Oleh MULIADI TUTUPOHO

Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Malut,

Mantan Kepala Biro Humas Setda Malut

 

Tanggal 9 Februari 2022 ini adalah Hari Pers Nasional (HPN), dimana Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara menjadi tuan rumah. Perwakilan insan pers di Indonesia akan menghadiri perhelatan ini yang dirangkaikan dengan berbagai kegiatan.

Pers atau media merupakan lembaga dan profesi yang diakui dunia keberadaan dan perannya sejak dahulu kala. Pers memainkan peran penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika tidak ada pers maka dunia akan gelap karena tidak ada informasi yang diketahui oleh masyarakat.

Dengan adanya pers, informasi di berbagai dunia dapat diketahui dalam waktu singkat, dan seringkali secara langsung diketahui dimana peristiwa itu terjadi.

Oleh karenanya, pers diakui oleh ahli terkait sebagai salah satu dari empat tiang demokrasi negara setelah eksekutif, legislative, dan yudikatif. Sebuah negara dapat disebut demokratis apabila pemerintan yang berkuasa di negara itu otoriter sehingga tidak memberikan kebebasan kepada pers, kalaupun ada kebebasan tetapi harus melewati badan sensor agar tidak ad apers yang mengkritik pemerintah atau kekuasaan.

Salah satu fungsi dan peran pers yang terdapat dalam Undang-Undang Pers adalah edukasi kepada masyarakat melalui pemberitaan di bidang pendidikan, literasi, sosial, budaya, ekonomi, hukum, politik, dan lain sebagainya.

Di era revolusi teknologi informasi yang disebut juga revolusi 4.0 atau era digital, peran pers semakin besar karena masyarakat sudah leluasa mengakses informasi di media online meskipun itu belum merata di seluruh Indonesia karena faktor geografis dan infrastruktur jaringan. Tetapi sudah sangat baik dan maju dibandingkan dengan sebelum era revolusi 4.0 ini.

Meningkatkan Literasi

Sebagaimana diketahui, tingkat literasi di Indonesia masih sangat rendah di dunia dan di Kawasan Asia. Beberapa studi dapat diketahui bahwa tingkat minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah dan memprihatinkan.

Hasil Programme for International Student Assessment (PISA), salah satu tes internasional tiga tahunan yang sangat terpercaya, sejak 2000 sampai 2018 menempatkan Indonesia sebagai negara dengan kemampuan membaca rendah. Demikian pula dengan survei yang dilakukan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO), di mana tingkat minat baca bangsa Indonesia menempati posisi kedua terendah dari 61 negara yang disurvei (Rifai, 2017, Kordi K, 2019).

Hasil survei UNESCO pada 2011 diketahui indeks membaca masyarakat Indonesia berada pada kategori tendah yaitu sekitar 0,001. Artinya dari seribu penduduk, hanya ada satu orang yang masih memiliki minat baca tinggi. Angka ini sangat jauh dibandingkan dengan angka minat baca di Amerika Serikat (AS) dan Singapura, apalagi Jepang. AS memiliki indeks membaca 0,45 dan Singapura memiliki indeks 0,56. Jepang memiliki indeks 17. Bahkan budaya baca masyarakat Indonesia berada di urutan ke-38 dari 39 negara dan merupakan negara yang paling rendah minat bacanya di kawasan ASEAN (Kordi K, 2019).

Dalam lingkup Indonesia, daerah yang masih terdapat kesenjangan minat baca di setiap Kawasan atau daerah, dan Maluku Utara masih rendah minat baca masyarakatnya disebabkan karena banyak faktor. Pemerintah Indonesia melalui Perpustakaan Nasional dan Kementerian Pendidikan, serta Dinas terkait tengah berupaya meningkatkan minat baca semua masyarakat melalui program-programnya.

Upaya tersebut akan semakin besar dampaknya bagi peningkatan minat baca, apabila instansi pemerintah membuka diri untuk membangun kemitraan dengan pers. Karena pers, sebagaimana disebutkan di atas, memiliki peran yang sangat besar, seperti dikatakan seorang ahli bahwa, hitam putihnya dunia ditentukan oleh pers.

Kekuatan pers dapat menjangkau masyarakat secara efektif dan efisien dibandingkan dengan institusi di luar pers. Oleh karenanya, sekali lagi diperlukan keterbukaan dan kemitraan dengan insan pers sehingga program-program pemerintah dapat diketahui dan ikut dikontrol secara sosial. Dengan demikian, ke depan masyarakat dapat meningkat literasinya baik terkait dengan pendidikan, dan sector-sektor lain.[]

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *