Siklon Tropis Nuri, Maluku Utara Waspada Hujan dan Angin Kencang
PUBLIKA-Ternate, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat di Provinsi Maluku Utara untuk mewaspadai potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang diprakirakan terjadi dalam sepekan ke depan, mulai 12 hingga 18 Maret 2026.
Dalam analisis dinamika atmosfer yang dirilis BMKG, kondisi cuaca dalam skala global, regional, hingga lokal masih memberikan pengaruh signifikan terhadap pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia, khususnya di kawasan timur.
Secara global, indeks ENSO di wilayah Nino 3.4 terpantau tidak terlalu berpengaruh terhadap peningkatan pola konvektif. Namun nilai Southern Oscillation Index (SOI) tercatat positif dan aktif secara spasial, sehingga memicu peningkatan aktivitas pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia bagian timur, termasuk Maluku Utara.
Selain itu, keberadaan Siklon Tropis Nuri yang sedang aktif di Samudra Pasifik Utara Papua turut memberikan dampak terhadap kondisi atmosfer di Maluku Utara. Siklon tersebut menyebabkan terjadinya belokan dan perlambatan angin di sekitar wilayah Maluku Utara yang memicu penumpukan massa udara dan memperbesar peluang terbentuknya awan hujan konvektif.
BMKG memprakirakan kondisi cuaca di Maluku Utara selama periode 12–18 Maret 2026 umumnya berupa hujan ringan hingga sedang. Meski demikian, terdapat potensi peningkatan curah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat terjadi secara fluktuatif pada pagi, siang atau sore, malam hingga dini hari.
“Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang diprakirakan terjadi di sebagian besar wilayah Kabupaten Pulau Morotai, Halmahera Utara, Halmahera Barat, Kota Ternate, Kota Tidore Kepulauan, Halmahera Tengah, Halmahera Timur, Halmahera Selatan, Kepulauan Sula, serta Pulau Taliabu,” kata petugas BMKG Sultan Babullah Ternate, Muhamad Dzikri Abdul Fattah dalam keterangan persnya, kamis (12/03).
BMKG juga mengingatkan adanya potensi dampak turunan dari fenomena hidrometeorologi tersebut, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, pohon tumbang, berkurangnya jarak pandang, hingga angin kencang.
Karena itu, pemerintah daerah dan masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan dengan memastikan kapasitas infrastruktur dan sistem tata kelola sumber daya air dalam kondisi siap mengantisipasi peningkatan curah hujan.
Selain itu, koordinasi dan komunikasi antar pihak terkait perlu terus diperkuat guna meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi.(red)





