MJO Aktif, Maluku Utara Berpotensi Diguyur Hujan Lebat Sepekan
PUBLIKA-Ternate, Kondisi dinamika atmosfer dalam skala global, regional, dan lokal hingga sepekan ke depan masih memberikan pengaruh signifikan terhadap cuaca di Indonesia, khususnya di wilayah Maluku Utara. Berdasarkan analisis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Baabullah Ternate, potensi hujan dengan intensitas ringan hingga lebat diprakirakan terjadi pada periode 26 Februari hingga 4 Maret 2026.
Secara global, indeks ENSO di Nino 3.4 terpantau kurang berpengaruh terhadap peningkatan pola konvektif. Sementara itu, nilai Southern Oscillation Index (SOI) terpantau positif dan Madden-Julian Oscillation (MJO) berada pada Fase 3 serta aktif secara spasial, sehingga berkontribusi terhadap peningkatan pertumbuhan awan hujan, terutama di wilayah Indonesia bagian timur.
“Pada skala regional, terpantau adanya belokan dan perlambatan angin di atas wilayah Maluku Utara yang menyebabkan penumpukan massa udara. Kondisi ini mendukung pembentukan awan hujan konvektif yang berpotensi meningkatkan intensitas curah hujan di sejumlah daerah,”hal ini disampaikan kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Baabullah Ternate Muhammad Fauzi Bintiang dalam siaran persnya, kamis (26/02).
BACA JUGA:Tahun 2026, Pemprov Malut Siapkan Rp 5,1 Miliar Beasiswa Untuk Mahasiswa Kurang Mampu
Menurutnya secara umum, cuaca di Maluku Utara selama periode tersebut diprakirakan didominasi hujan ringan hingga sedang. Namun, masyarakat perlu mewaspadai adanya peningkatan curah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat terjadi secara fluktuatif pada pagi, siang atau sore, malam hingga dini hari.
“Kami mengingatkan potensi dampak turunan dari fenomena hidrometeorologi, di antaranya banjir, banjir bandang, tanah longsor, pohon tumbang, berkurangnya jarak pandang, serta angin kencang,”terangnya.
Adapun rincian prakiraan cuaca 26 Februari -4 Maret 2026. Potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang diprakirakan terjadi di sebagian besar wilayah Kabupaten Pulau Morotai, Halmahera Utara, Halmahera Barat, Kota Ternate, Kota Tidore Kepulauan, Halmahera Tengah, Halmahera Timur, Halmahera Selatan, Kepulauan Sula, dan Kabupaten Pulau Taliabu.
Pemerintah daerah dan masyarakat diimbau untuk memastikan kapasitas infrastruktur dan sistem tata kelola sumber daya air dalam kondisi siap menghadapi peningkatan curah hujan.”Koordinasi, sinergi, dan komunikasi antarinstansi juga perlu ditingkatkan guna memperkuat kesiapsiagaan serta meminimalkan risiko bencana hidrometeorologi di wilayah Maluku Utara.,”imbuhnya.red)





