Sebelum Tambang Hadir
Sukran Kiye
Pegiat Literasi Madrasah Rausyan Fiqr (MRK) Halmahera Timur
Dulu, waktu zaman loga loga atau “poci” masyarakat Halmahera Timur pada umumnya menjalankan aktivitas kehidupan dengan serba lokal dan alami dari alam. Khususnya, masyarakat kebanyakan di kenal dengan Maba, yang bekerja tidak memiliki gelar/jabatan, mereka hidup di tengah aktivitas bertani, berkebun, dan nelayan. Sebuah proses aktivitas ke kebun, masyarakat Halmahera Timur tidak pernah merasakan penderitaan, melainkan yang hadir ialah kenyamanan, kebahagiaan serta kedamaian yang hakiki.
Tak hanya sebatas itu, masyarakat Halmahera Timur juga memiliki nilai-nilai leluhur adat yang terus dirawat dan dijaga dengan penuh rasa, cinta, dan kasih saying. Selain itu, mereka juga memiliki kepercayaan yang turun temurun dari nenek moyang. Misalnya tuan tanah yang di anggap sebagai pahlawan di masanya atau pelindung kampung. Adat istiadat yang di wariskan oleh leluhur kepada generasi menjadi basis kekuatan bagi mereka.
Dulu, masyarakat Halmahera Timur menjadikan alam sebagai sekolah, guru, bahkan diri yang memiliki hubungan erat dengan Sang Pencipta. Namun, ketika zaman ini mulai berubah, ia mulai mengubah pola pikir masyarakat yang ternyata penerangan rumah sebelumnya masih loga – loga/poci, kini telah digantikan dengan lampu berkekuatan listrik. Dari perubahan inilah, nilai kebersamaan dan samangat kehidupan telah di vonis oleh satu hal yang baru. Tak memakan waktu yang begitu lama, zaman makin berkembang, teknologi mulai hadir dan mengubah arus lokal menjadi arus modern.
Perlahan, setiap generasi lahir di zaman baru seperti dikutuk dan ditirai oleh kemajuan teknologi yang memiliki efek terhadap adat hidup rukun. Namun, perubahan paradigma tidak hanya dipengaruhui teknologi melainkan kehadiran investasi pertambangan, yang lebih memiliki dampak besar. Di antaranya ekonomi, sosial, moral, agama, dan kebudayaan. Padahal kita tahu, bahwa masyarakat Halmahera Timur hidup di tengah pemeluk agama, suku, adat istiadat yang berbeda tapi meraka memiliki falsafah yang utuh.
Hadirnya Tambang
Pada fase ini, selain kemajuan teknologi yang menguras tenaga dan fikiran manusia, hadirlah satu momen yang mengejutkan masyarakat Halmahera Timur. Kehadiran investasi pertambangan di tengah kemajuan teknologi lebih mempengaruh kehidupan sosial masyarakat Halmahera Timur. Tambang hadir lebih mempersempit ruang hidup manusia, memperkeruh suasana sosial, kebudayaan dan meracun pikiran tradisional ke pikiran praktis. Hadirnya tambang, tak hanya memperkeruh suasana akan tetapi ia memblokir poros peradaban, kehancuran ekologis, membabat hutan.
Hingga kini, masyarakat Halmahera Timur telah mengalami kesusahan dalam mencari nafkah keluarga. Padahal sebelum hadirnya tambang, masyarakat Halmahera Timur sangat mudah mencari kebutuhan hidup di darat maupun di laut.
Kehadiran pertambangan di wilayah tertentu menjadi ancaman besar. ffalsafah kehidupan yang dirawat, dilestarikan melalui praktik – praktik sosial pun dikikis perlahan. Ini menjadi catatan penting, harus kita cermati baik-baik dalam memahami kehadiran pertambangan. Kehadiran pertambangan dijanjikan bahwa masyarakat akan sejahtera, sementara pada realitas saat ini kesejahteraan cuman menjadi ranting-ranting yang telah patah.
Hutan, lautan, dan sungai yang dulunya menjadi napas kehidupan masyarakat telah lebur dalam limbah tambang. Apakah kita pernah berfikir tentang satu hal yang bagi saya paling urgen dibahas oleh pihak pertambangan. Tidak semua masyarakat Halmahera Timur memiliki satu tanda pendidikan (Ijazah ) yang seharusnya pihak investasi pertambangan lebih perhatikan terhadap kehidupan mereka, saya sangat berharap kepada seluruh investasi pertambangan yang telah bercokol di Provinsi Maluku Utara, Kabupaten Halmahera Timur memberi ruang dan lapangan kerja kepada mereka. Ini adalah sebuah tawaran yang penting dan perlu dibicarakan.
Dulu orang ambil kelapa bikin minyak pakai menggoreng
Dulu orang saling memberi pisang, kasbi/ubi, cabai/rica dan tomat.
Dulu orang Buli, Mabapura pergi di kebun pulang membawa pisang, ubi/kasbi, tomat dan cabai/rica
Sekarang orang sudah beli minyak di kios untuk menggoreng
Sekarang orang Buli, Mabapura cari pisang, ubi/kasbi, tomat dan cabai/rica di pasar.
Itu karna apa ? Karna tambang so kiri kanan, demikian mama bicara. []






