Nilai Investasi Maluku Utara Tumbuh 61 Triliun, Pariwisata Masih Tertinggal
PUBLIKA-Sofifi, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Maluku Utara, mencatat sampai Triwulan III 2025, realisasi investasi Maluku Utara mencapai Rp61,99 triliun atau 74,37 persen.
Namun angka tersebut masih dibawah target Rp83,63 triliun. Nilai investasi masih didominasi sekitar 90 persen oleh Penanaman Modal Asing (PMA) sektor pertambangan nikel.
Sementara ssektor pariwisata, hanya 3.14 miliar itu pun sejak tahun 2024, yang disumbangkan dari KEK Morotai.
“Angka yang sangat kecil untuk provinsi dengan kekayaan bahari kelas dunia. kondisi ini tidak cukup sehat untuk keberlanjutan ekonomi jangka panjang,”hal ini disampaikan kepala Dinas PM-PTSP Malut Nirwan MT Ali.
Untuk itu, potensi bahari perlu dikelola dengan baik, untuk investasi kedepan. “laut bukan hanya sebagai lanskap indah, tetapi sebagai ruang hidup yang harus dikelola hati-hati, dijaga, dan bisa menghasilkan manfaat ekonomi tanpa merusak ekosistem,”ujarnya.
Apa lagi, bagi Nirwan, sebagai besar kekayaan wisata Maluku Utara berada di kawasan konservasi yang bernilai ekologis tinggi. Karena itu pengembangan wisata tidak bisa dengan cara biasa, tetapi harus berlandaskan keberlanjutan, pelestarian ekosistem, dan pengelolaan berbasis komunitas.
“Kami akan dorong sektor pariwisata Malut dengan menyusun IPRO (Investment Project Ready to Offer)—dokumen resmi yang menyiapkan peluang investasi secara terukur dan siap ditawarkan,”terangnya.(red)





